Ibunda Impian

Posted June 19, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Anak & Keluarga

Sosok ibunda adalah sosok yang begitu berkesan bagi semua orang. Perjuangan bundalah yang membuat kita semua menjadi ada di dunia ini. Kasih sayang bundalah yang membuat kita menjadi dewasa mengarungi kehidupan. Semua akan dilakukan bunda demi kita anaknya, tanpa berharap balas dari sang anak. Bundalah yang selalu tersenyum ketika bertemu dengan anak-anaknya.

Esok hari adalah hari ibu. Apa yang biasa kita lakukan untuk memperingatinya? Memberi ucapkan selamat pada bunda kita? Membelikan kado buat untuk bunda kita? Ya semuanya itu berarti sesuatu. Tetapi kita bisa menciptakan momen terindah di hari ibu dengan menciptakan dialog dari hari ke hati dengan bunda tersayang, momen yang akan menyatukan hati kita semua. Caranya mudah, ajukan pertanyaan dibawah ini, galilah setiap cerita serinci mungkin.
Read the rest of this post »

Impian, penyakit menular

Posted June 6, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Anak & Keluarga, Tentang Pendidikan

Sampai ketika menulis ini, aku masih merinding, demam panas dingin, tubuh dipenuhi dengan energi yang tak terhingga, energi yang berlompatan. Awalnya, beberapa waktu yang lalu, Meta, seorang rekan saya, datang dengan muka yang setengah cemas, atau mungkin juga setengah gemas. Ngajak ngobrol. Meta bercerita banyak mengenai sebuah teater boneka perancis yang membuatnya tergetar gak karu-karuan, selama lebih dari dua hari. Sebuah penampilan yang memicu imajinasi meta untuk bermimpi, mimpi yang sangat besar. Dan selama dia bercerita, aku merasa merinding dan demam panas dingin. Mimpi memang sangat menular! ketika mimpi itu lahir dari hasrat dalam hati kita.
Read the rest of this post »

Praktek Appreciative Inquiry di Heathside School

Posted May 30, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Appreciative Inquiry, Tentang Pendidikan

David Cooperrider tentang Appreciative Inquiry

Posted May 30, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Appreciative Inquiry

MENUJU INDONESIA IMPIAN

Posted May 25, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Indonesia

MENUJU INDONESIA IMPIAN:
PENCIPTAAN KOMUNITAS SEJAHTERA DAN MANUSIAWI
DENGAN PENDEKATAN APPRECIATIVE INQUIRY
(SEBUAH PROPOSAL RISET AKSI)

A. Latar Belakang
Keragaman Indonesia merupakan suatu keniscayaan. Keragaman budaya, hayati, alam dan sosial-ekonomi. Keragaman ini merupakan salah satu kekuatan bangsa Indonesia. Bayangkan kita berada dalam sebuah komunitas dimana setiap orang dan kelompok menyumbangkan kekuatan masing-masing untuk menciptakan kedamaian kehidupan bersama. Setiap orang dan kelompok bekerja bersama mensinergikan setiap keunikan yang dimiliki. Setiap orang menciptakan keadaan yang sejahtera dan manusiawi dengan kreativitas masing-masing. Sebuah bayangan yang diimpikan oleh bangsa Indonesia, sebuah Indonesia Impian.
Sayangnya, Indonesia yang diimajinasikan oleh para founding father sering tersandung karang terjal. Indonesia sebagai sebuah spirit menggelora diawal kemerdekaan mengalami badai yang berkelanjutan. Sampai akhirnya, bangsa Indonesia berada pada krisis multidimensi yang berkelanjutan. Dua buah isu yang banyak mengemuka adalah tentang pengentasan kemiskinan dan keragaman.
Kemiskinan hingga saat ini masih menjadi isu global dan masalah sosial yang paling dominan terutama bagi negara-negara dunia ketiga. Hampir di semua negara berkembang, hanya 10%, 20%, atau paling banyak 30% masyarakat yang dapat menikmati hasil pembangunan. Sisanya, mayoritas masyarakatnya hidup tak berdaya (Strahm, 1999: xi-xii; Muchtar, 2003:2). Sebagai negara dunia ketiga, Indonesia juga mengalami hal yang serupa.
Jumlah masyarakat Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan pada tahun 2006 ini sebesar 17,75% dari total penduduk Indonesia (BPS, 2006:1). Dibandingkan dengan penduduk miskin pada tahun 2005 yang mencapai 15,97%, berarti jumah penduduk miskin meningkat sebesar 3,95 juta jiwa (BPS, 2006:2). Hal ini belum termasuk dengan jumlah penduduk yang masuk dalam kategori miskin sementara (transient poor) yang cukup besar. Transient poor merupakan penduduk yang penghasilannya dekat dengan garis kemiskinan. Output secara kuantitatif, pada akhir tahun 1960-an lebih dari 60% penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan, dan pada tahun 1996 menjadi sekitar 12 persen dari total penduduk Indonesia (BPS, 1997; Muchtar, 2003:2).
Krisis ekonomi yang melanda Indonesia tahun 1997 mengakibatkan jumlah orang miskin naik drastis menjadi 79,4 juta jiwa, terdiri dari 21,6 juta jiwa penduduk kota dan 56,8 juta jiwa penduduk desa (Sudjadi, 2000). Angka ini kemudian pada tahun 2005 menurun menjadi 35,10 juta jiwa dan kemudian meningkat lagi di tahun 2006 (BPS,2006). Data tersebut di atas menunjukkan bahwa ketahanan masyarakat terhadap kemiskinan cenderung labil, walaupun berbagai kebijakan untuk mengentaskan kemiskinan telah diterapkan.
Intervensi dari pihak luar untuk memenuhi kebutuhan atau memecahkan persoalan masyarakat miskin masih menjadi pendekatan dominan dalam pengentasan kemiskinan, baik oleh pemerintah maupun kalangan lembaga swadaya masyarakat (Cussen, 2004). Pendekatan lama tersebut, yang biasa disebut sebagai pendekatan defisit, mengasumsikan komunitas miskin sebagai sebuah persoalan yang harus diselesaikan. Langkah pengembangan komunitas miskin selalu diawali dengan identifikasi persoalan dan kebutuhan, analisis penyebab, analisis solusi dan implementasinya. Dampak negatif pendekatan ini adalah timbulnya rasa sakit, lahirnya sikap defensif, kehilangan visi ke depan, penurunan semangat, dan melahirkan persoalan-persoalan baru (Cooperrider dan Whitney, 2001).
Komunitas miskin kemudian seringkali bukannya terentaskan, justru menjadi semakin tidak berdaya, ketergantungan dan ketagihan bantuan. Forum Pengembangan Pembaruan (Widiadi, 2005) menilai bahwa dalam tatanan bernegara, desa tidak dilihat sebagai sebuah kekuatan yang unik yang mampu berkembang dan membangun diri sendiri untuk menguatkan negara bangsa. Sekalipun dalam tataran formal para penyusun kebijakan dan perundangan mengatakan ingin mendorong lahirnya kekuatan desa tetapi dalam kenyataannya lebih pada upaya melemahkan kekuatan budaya lokal (Widiadi, 2005). Upaya pengentasan kemiskinan justru semakin memupus atau bahkan menghilangkan keragaman kekuatan unik masyarakat lokal.
Kondisi serupa ditemukan pula di Desa Wedoroanom, Driyorejo, Gresik, ketika peneliti melakukan studi awal ke lapangan. Warga Wedoroanom menganggap bahwa nasib mereka hanya dapat diubah jika ada pihak luar yang mampu menyelesaikan persoalan yang mereka hadapi. Warga mengabaikan dan menyangkal kekuatan yang mereka miliki sebagai sebuah jalan untuk merubah kehidupan mereka. Percakapan didominasi dengan keluhan serta sikap menyalahkan pihak yang dinilai bertanggung jawab atas persoalan yang mereka hadapi. Fokus pada persoalan membuat mereka tidak pernah membayangkan visi masa depan desa mereka. Kisah komunitas petani sukses adalah cerita yang mustahil dan tidak mungkin terjadi di Indonesia. Secara umum, kondisi psikologis warga adalah tidak percaya diri atau menyangkal kekuatan sendiri, pesimis, penuh dengan keluhan, visi masa depan yang lemah dan kehilangan kreativitas.
Bayangkan, apa yang kita dapatkan kalau kita mencari persoalan, pastilah persoalan. Semakin dicari maka semakin banyak pula mendapatkan persoalan. Bayangkan pula, apa yang kita dapatkan kalau mencari keberhasilan pastilah keberhasilan. Semakin dicari maka semakin banyak pula mendapatkan keberhasilan. Oleh karena itu, apabila berharap suatu hasil yang berbeda dengan yang didapatkan selama ini maka visi yang mendasari upaya pengentasan kemiskinan harus dipertimbangkan ulang dengan menggunakan cara pandang yang berbeda (reframing). Apakah benar yang sungguh-sungguh kita dan komunitas miskin harapkan adalah terentas dari kemiskinan? Apakah yang dicita-citakan oleh para bapak pendiri bangsa adalah masyarakat yang terentas dari kemiskinan?
Mukadimah Undang-Undang Dasar 1945 telah mengamanatkan sebuah cita-cita yaitu “…..Kemudian dari pada itu untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa….”. Sudah sepatutnya apabila visi pengentasan kemiskinan diubah menjadi penciptaan kesejahteraan. Visi ini akan mengalihkan fokus program secara menyeluruh. Bukannya, mencari persoalan tetapi mencari kisah sukses yang terjadi dalam suatu komunitas. Bukannya, mencari faktor penyebab persoalan tetapi mencari faktor penyebab keberhasilan.
Pengalihan fokus ini merupakan spirit dari sebuah pendekatan baru yang saat ini mulai berkembang luas di berbagai penjuru dunia, yaitu Apresiatif Inquiry. Sebuah pendekatan yang memandang memandang manusia dan komunitas sebagai sebuah kapasitas kekuatan yang tak terbatas. Pendekatan yang berpijak pada asumsi selalu terdapat berbagai cerita sukses, bakat, keahlian dan sumber daya didalam masyarakat yang dapat ditemukan dan dikembangkan oleh masyarakat itu sendiri.

Lengkapnya klik disini

Celebrating Pluralism with Appreciative Inquiry

Posted May 24, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Appreciative Inquiry, Tentang Indonesia

Sebuah Upaya Menciptakan Indonesia Impian

By Rakhman Ardi dan Budi Setiawan

I believe that diversity is a part of the natural order
of things – as natural as the trillion shapes
and shades of the flowers of spring or the leaves of autumn.

I believe that diversity brings new solutions to an
ever – changing environment, and that sameness
is not only uninteresting but limiting.

To deny diversity is to deny life – with all its richness
and manifold opportunities…. Live and let live. Understand
that those who cause no harm should not be feared,
ridiculed, or harmed – even if they are different.

Look for the best in others.

Be just in my dealings with poor and rich,
weak and strong, and whenever possible to
defend the young, the old, the frail, the defenseless.

Be kind, remembering how fragile the human spirit is.

Live the examined life, subjecting my motives
and actions to the scrutiny of mind and heart
so to rise above prejudice and hatred. Care.

- Gene Griessman -

Pendahuluan
Jauh di balik dendam dan perdamaian, terhantar ingatan. Seperti sebuah lautan, Indonesia tinggal memilih cerita dari laut mana yang menyimpan manisnya masa lalu, dan cerita mana yang ingin dicampakkan. Ingatan tak pernah utuh. Masa silam tak pernah satu. Ada kenangan yang memilih damai. Ada waktu lampau yang mendorong Indonesia berseru: “Kami ingin menuntut balas.” Ada politik ingatan, ada politik melupakan. Keduanya menganggap bahwa “sejarah” adalah semacam fotokopi dari pengalaman yang telah tersimpan.
Bila kita memilih cerita dan berita kelam, rasanya tercecer dan tak habis koran dan ungkapan-ungkapan lisan menguraikan. Mitos dan Narasi sejarah tentang pertentangan ras, agama, suku, dan golongan terlanjur melekat dalam tinta dan terinternalisasi dalam kepribadian. Cerita kemenangan si baik melawan si jahat yang penuh tauladan atau kisah kepahlawanan tentara Tuhan yang mampu membumi hanguskan setan dinyanyikan terus menerus sebagai pengantar tidur bocah lima tahunan menjelang mimpi lelapnya. Ada cerita rakyat tentang tragedi kurusetra sebagai ladang pembantaian atas si jahat kurawa, cerita tentang kutukan malinkundang, si kancil pencuri ketimun yang terperangkap di ladang, pembantaian 7 jenderal di jaman revolusi 65, hingga pembantaian pasca 65 atas nama dendam terhadap 1,5 juta rakyat indonesia tanpa peradilan. Memori tragedi Sampit dijadikan pajangan di layar kaca atau di panorama internet lewat penjagalan kepala manusia bak hiasan kepala sapi. Cerita Ambon berdarah, pembantaian Poso, perang suku di Papua pun dituturkan dengan dendam berkepanjangan dan saling meneriakkan nama Kebenaran.
Banjir darah di negeri sendiri membuat indonesia tak berhenti menangis. Ada apa dengan kita? Kenapa kita tak terpikir cerita bahagia? Kenapa tak berani kita berharap?

Lengkapnya klik di celebrating-pluralism-with-appreciative-inquiry.doc

Berpikir Sirkuler lagi

Posted May 21, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Pendidikan

Salam damai,
Di milis psikologi, percikanku tentang berpikir sirkuler mendapat tanggapan dari beberapa kawan. Jadi menarik diskusinya…aku ikutan nimbrung lagi ah…dan jadilah percikan ini.

Dalam metode penelitian kuantitatif (dan kebanyakan cara pikir orang modern, kayak kita-kita kali ya..) cenderung menggunakan berpikir linear, seperti jika a maka b. Relasi antara dua hal (biasa disebut variabel) dapat dipotret sebagai sebuah hubungan langsung antara keduanya. Dengan asumsi ini, maka sangat mudah menentukan penyebab dari sesuatu. Semisal, budi (nama sebenarnya kok hehehe) tidak naik kelas karena dia nakal di kelas (emang gitu…). Selesai urusan. Kebanyakan dari kita akan berdamai dengan penjelasan, nah itu buah dari kenakalannya.

Di perusahaan. Ketika turn over karyawan tinggi. Ketika tingkat penjualan drop. Ketika kepuasan karyawan turun. Seberapa jauh kita menyelusuri rantai sebab akibat? Bagaimana kita peka terhadap relasi antar subsistem dalam perusahaan yang memicu hal tersebut?
Read the rest of this post »

Berpikir Sirkuler

Posted May 16, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Pendidikan

Dahulu kala, aku sempat sekilas tertarik membaca buku fifth disicplinenya peter senge di ruangnya pak seger, buku berwarna hitam kumal….tetapi kuabaikan. Dahulu kala, sempat diberitahu pak ino tentang berpikir sistem…kudengarkan tapi kuabaikan. Sampai suatu hari kemudian aku mengikuti vibrant training dimana dimainkan system thingking games. Games yang membuat lompatan kesadaran bahwa kerumitan-kerumitan berpikir sistem ternyata bisa diterjemahkan secara sederhana, sesuatu yang kemudian kusadari merupakan khas mas dani.

Lompatan kesadaran ini memicu semangatku untuk belajar. Mulailah eksperimentasi beberapa improvisasi system thinking games, pada pada sesi training maupun di ruang-ruang kuliah. Menghayati benar setiap lekuk tubuh games tersebut. Merasakan kelezatan setiap potong games itu.

Yang menarik, dua hari yang lalu. Ketika aku ngajar kuliah psikodiagnostik 2:observasi…materinya observasi pada setting industri dan organisasi. Otakku tiba-tiba menjadi liar. ehm bagaimana kalau mahasiswa kuajak dolan ke fakultas tetangga, farmasi. Aku minta mereka mengamati ruang kerja karyawan dengan membayangkan mereka tengah membawa tustel dan asyik memotret setiap bagian ruang tersebut. karena nanti foto hasil karya mereka akan dibahas dikelas. Mereka berkeliaran disana sambil dipandangi dengan cara yang aneh oleh para penghuninya…untungnya mahasiswa termasuk kalangan para cuekers…jadi santai aja…
Read the rest of this post »

Legally Blonde 2: Cara keseharian yang menggetarkan hati

Posted May 14, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Indonesia, Tentang Pendidikan

Semalem nonton film legally blonde 2 di trans tv…secara keseluruhan mungkin film ini lebih sebagai film hiburan ditengah waktu senggang…..film yang dinikmati tanpa perlu dikunyah…dan memang semalam nonton film ini sebagai sambilan ditengah tumpukan koreksian uts.

Setelah melihat beberapa saat, aku tergelitik dengan beberapa kejadian yang mengusik ketenangan. Pertama, bagaimana kehadiran si Elle yang serba pink menjadi warna unik ditengah kekelaman warna di The Hill, kantor barunya. Elle sebagai asisten baru seorang anggota kongres, datang dan mengubah kebiasaan dan interaksi antar anggota disana, membuat shock semua orang tidak dengan hal-hal luar biasa, justru dengan hal-hal yang remeh, seperti warna dan aksesoris pakaiannya.

Dalam banyak hal, seringkali kita melakukan sesuatu sebagaimana sesuatu itu biasa dilakukan. Dalam kasusku dulu, aku tiba-tiba berpakaian super rapi, dengan celana kain dan kemeja lengan panjang. Sebuah perubahan yang sangat drastis dari dulunya orang yang begitu mencintai kaus. Ketika memasuki lingkungan baru, seakan-akan kita dituntut untuk bermain aman, berperilaku sesuai dengan kebiasaan yang ada. Pada beberapa situasi, ini mungkin merupakan sebuah mekanisme pertahanan diri sebuah komunitas. Di sisi lain, mekanisme itu justru membuat komunitas seringkali mandeg, mengabaikan keunikan individu, mengabaikan hal-hal yang berbeda dengan apa yang biasa mereka kenali. So, Elle menunjukkan hal sebaliknya.
Read the rest of this post »

Perjumpaan dengan seorang kawan

Posted May 11, 2007 by bukikpsi
Categories: Uncategorized

Salam damai,
Kemarin berjumpa dengan seorang kawan lama. Kami berjumpa 10 tahun yang lalu di ruang pengap kos2an, di warung kopi sepanjang trotoar kampus, di jalanan. Banyak waktu kami habiskan berbagi kegelisahan dan kemarahan. Gelisah tentang masa depan bangsa ini. Marah atas berbagai praktek-praktek penghisapan manusia atas manusia yang begitu telanjang. Paling menarik dari kawan ini adalah kegesitannya mengemas kegelisahan dan kemarahan dalam joke-joke satir, yang memicu pendengarnya untuk tertawa pahit. Kritik-kritis pedas disulap menjadi santapan ayam balado yang lezat. Kalimat-kalimat perlawanan menjadi minuman STMJ aduhai rasanya. Kawan menjadi tercerahkan. Lawanpun tak mampu marah. Suatu kecerdasan apresiatif yang asli.
Read the rest of this post »

Pelabelan anak vs AI

Posted May 11, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Anak & Keluarga

Pagi-pagi yang damai saya mendapat email dari Kang Widyarto. Saya pikir menarik diperbincangkan lebih lanjut di milis ini

Salam Damai,
Saya salut dengan upaya vincent liong dan leonardo rimba dalam mendidik masyarakat (termasuk saya…hehe..) mengenai anak indigo.
Dalam tradisi psikologi perkembangan (dan mungkin juga klinis) sendiri sudah ada beberapa perkembangan menarik dalam memandang seorang anak. Dari dulunya, kategorisasi anak normal vs tidak normal, anak pada umumnya vs anak berkebutuhan khusus, hingga pemunculan kategori umum yaitu different ability (bagaimana Bu Dewi, Bu Wiwin, Bu Upik???? mohon dikoreksi ya). Secara umum memang psikolog masih banyak yang menganut tradisi lama. Tetapi paling tidak, perkembangan ini merupakan sebuah titik cerah pembebasan anak dari beban kategori-kategori yang diciptakan orang dewasa terhadap diri mereka.
Pada satu sisi saya setuju dengan leo bahwa kita harus membebaskan anak indigo dari pelabelan tertentu. Tetapi di sisi lain, saya juga keberatan menempatkan anak-anak tertentu dengan label ADHD. Percayalah label apapun (apalagi negatif) justru akan membuat dunia kita semakin suram dan tidak sedap dipandang.
Appreciative parenting berangkat dari asumsi dasar bahwa setiap anak mempunyai keunikan, mempunyai kemampuan yang berbeda (sekaligus keterbatasannya sendiri). Oleh karena itu, orang tua dalam mengasuh harus selalu melakukan appreciative inquiry, melakukan penyelidikan tentang apa yang berharga dari seorang anak, memfasilitasi anak menjadi sadar akan keunikan dirinya dan mengoptimalkannya. Keunikan ini yang menjadi fokus dalam pengasuhan, bukan keterbatasannya. Harapan akan masa depan yang menjadi arahnya, bukan kesulitan yang dihadapi masyarakat saat ini.
Read the rest of this post »

Jika Tidak Suka dengan Guru

Posted May 11, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Anak & Keluarga, Tentang Pendidikan

Bagaimana jika dia tidak suka dengan guru? Kadang-kadang, motivasi belajar anak memang dipengaruhi oleh perasaan suka-tidak suka terhadap guru.

Sementara guru tidak begitu ‘berhasil’ disukai oleh murid-muridnya itu, bisa terjadi karena banyak hal. Di antaranya, karena karakternya memang tidak begitu bagus, bete karena suasana mengajar yang tidak nyaman, atau lantaran terpaksa bagaikan mengejar setoran karena terdesak kurikulum yang padat.

Untuk mengatasi hal ini, ajak anak untuk meluapkan apa saja yang menjadi unek-uneknya soal sang guru. Biarkan dia bercerita panjang dan lebar, sampai habis/puas.
Read the rest of this post »

Ketika Pulang Sekolah

Posted May 11, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Anak & Keluarga, Tentang Pendidikan

Momen saat pulang sekolah pun bisa jadi saat yang tepat untuk menambah motivasi anak untuk sekolah. Sebisa mungkin, pancing dengan pertanyaan yang akan membuatnya menjawab dalam bentuk paparan.

Jika Anda hanya bertanya bagaimana sekolahnya tadi? setiap hari, mungkin anak hanya akan memberikan jawaban singkat ’baik-baik saja’, ’menyenangkan’.

Tapi kalau Anda bertanya, Coba ceritakan apa sih yang paling membuat kamu senang hari ini di sekolah? Dan kenapa sih, itu menyenangkan buat kamu?’, mungkin anak akan menjawabnya selama 30 menit. Dia akan mengingat-ingat, berimajinasi, tentang apa yang membuatnya paling senang di sekolah. Dampaknya, dia makin senang pada sekolah. *

Seni Bertanya ketika Anak Malas Belajar

Posted May 11, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Anak & Keluarga

Ada kalanya anak malas belajar, malas mengerjakan pe er, tidak suka dengan guru, dan sebagainya. Jika itu terjadi, ada dialog yang bisa dilakukan agar anak kembali termotivasi. Bagaimana caranya?

Setiap orangtua pasti mendambakan pertemuan yang berkualitas dengan anaknya. Tapi bagaimana caranya? ‘Gaya bertanya’ ala Appreciative Inquiry ini bisa dicoba, karena sembari bertanya, orangtua bisa sekaligus membangun jiwa anak.
Read the rest of this post »

5 pertanyaan untuk Mengembalikan Cinta

Posted May 11, 2007 by bukikpsi
Categories: Tentang Anak & Keluarga

Sudah berapa tahun usia perkawinan Anda? Adakalanya, rasa cinta sirna seiring bertambahnya usia. Cinta yang dulu membara, dan hubungan suami-istri yang dulunya romantis, kini jadi biasa saja. Malah, terasa bagaikan saudara.

Itu sebenarnya sudah cukup bagus, karena ada lho, yang malah jadi ‘tikus dan kucing’. Sebagian tak tahan dengan sisi negatif pasangan, yang tampaknya terungkap semua justru sesudah menikah.

Nah, ketika cinta mulai terasa hambar, ada beberapa pertanyaan yang bisa diajukan pada diri sendiri, dan kemudian pada pasangan, untuk mengembalikan rasa cinta.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut diinspirasi dari pendekatan appreciative inquiry, metode menyikapi masalah dengan cara-cara yang positif dan penuh penghargaan serta rasa bersyukur.

Ehm, seperti apa? Budi Setiawan Muhamad, M.Psi, Ketua Divisi Riset & Konsultasi Lembaga Pengkajian & Pengembangan Psikologi Terapan (LP3T) Fakultas Psikologi Unair, memberikan beberapa saran:
Read the rest of this post »